Kedudukan Perjanjian Kawin Terhadap Status Harta Dalam Perkawinan Beda Agama
DOI:
https://doi.org/10.21070/53503929Keywords:
Perjanjian perkawinan, Harta bersama, Perceraian, Kekuatan mengikat, Hukum perdataAbstract
Perjanjian kawin merupakan instrumen hukum yang dapat digunakan oleh suami dan istri untuk mengatur hubungan harta dalam perkawinan, termasuk menentukan adanya pemisahan harta. Permasalahan menjadi kompleks ketika dalam perjalanan perkawinan para pihak berada dalam kondisi berbeda agama dan kemudian berakhir dengan perceraian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan perjanjian kawin dalam menentukan status harta pada perkawinan beda agama serta akibat hukumnya terhadap harta setelah perceraian. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perjanjian kawin iyang idibuat isecara isah itetap imempunyai ikekuatan imengikat ibagi isuami idan iistri, itermasuk iapabila iperjanjian itersebut idibuat iselama iperkawinan iberdasarkan iPutusan iMahkamah iKonstitusi iNomor i69/PUU-XIII/2015. iApabila iperjanjian isecara itegas imengatur ipemisahan iharta, imaka istatus iharta ipara ipihak itetap iberpedoman ipada iisi iperjanjian idan itidak isecara iotomatis imenjadi iharta ibersama ihanya ikarena idiperoleh iselama iperkawinan. iPerbedaan iagama itidak idengan isendirinya imenghapus ikeberlakuan iperjanjian ikawin, ikarena ipersoalan iagama idan iperceraian iharus idibedakan idari ipersoalan ipengaturan iharta. iPerceraian itetap idilaksanakan iberdasarkan ihukum iperkawinan idan imelalui ipengadilan iyang iberwenang, isedangkan ipenentuan istatus iharta iharus imempertimbangkan iperjanjian ikawin iyang itelah idibuat isecara isah. iDengan idemikian, iperjanjian ikawin imemiliki ikedudukan ipenting idalam imemberikan ikepastian ihukum iterhadap istatus iharta ipasangan iberbeda iagama iketika iperkawinan iberakhir.